Nelayan di Sikka Butuh Pelatihan untuk Olah Produk Perikanan

By Admin Program Studi 19 Feb 2021, 22:28:42 WIB Pengabdian Kepada Masyarakat
Nelayan di Sikka Butuh Pelatihan untuk Olah Produk Perikanan

MAUMERE — Wahana Tani Mandiri (WTM) kabupaten Sikka provinsi NTT menyebutkan, hasil perikanan seperti udang, ikan dan rumput laut dari kabupaten Sikka provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) selama ini masih dijual dengan harga murah, sehingga tidak memberikan tambahan penghasilan.

Pemerintah dituntut untuk memberikan pelatihan dan fasilitasi, terutama kelompok perempuan nelayan agar bisa mengolah menjadi produk yang bernilai jual dan dapat meningkatkan pendapatan keluarga.

“Harus ada intervensi dari pemerintah dengan memberikan pelatihan pengolahan produk perikanan hingga pengemasan. Ini penting, agar memberikan tambahan penghasilan bagi keluarga nelayan,” sebut direktur WTM kabupaten Sikka, Carolus Winfridus Keupung di Maumere, Selasa (14/1/2020).

Wim sapaannya mengatakan, di kabupaten Sikka, baru ada produk dari kelompok wanita tani dan nelayan di kelurahan Wuring kecamatan Alok Barat , tetapi produksinya masih terbatas.

Untuk itu pinta dia, pemerintah harus mendorong kelompok nelayan lainnya agar bisa memproduksi hasil perikanan dan mengolahnya menjadi produk yang bisa dijual dan dipasarkan ke luar daerah.

“Kelompok nelayan harus difasilitasi pengurusan label halalnya maupun mendapat ijin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM,” usulnya.

Wim menyebutkan, pihaknya secara lembaga pernah memberikan pelatihan dan membantu peralatan produksi bagi beberapa kelompok wanita nelayan, namun dengan dana terbatas, sehingga butuh bantuan pemerintah.

Banyak kelompok yang mau memproduksi hasil perikanan, kata dia, namun terkendala modal usaha dan juga peralatan pengemasan, serta bantuan manajemen dan pemasaran hasil produksi.

Sementara itu, Dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Nusa Nipa (Unipa) Maumere, kabupaten Sikka, provinsi NTT,  Yohanes Don Bosco R. Minggo mengatakan, masih banyak potensi hasil laut dan perikanan yang belum diolah.

Rikson, sapaannya, mencontohkan, daging dan tulang ikan tuna yang selama ini tidak dipergunakan, bisa diolah menjadi kerupuk yang rasanya gurih dan lezat.

“Perlu ada pelatihan untuk mengolah hasil laut dan perikanan agar nelayan bisa mendapatkan penghasilan tambahan. Uang ini yang bisa ditabung untuk dipergunakan saat nelayan libur melaut ketika cuaca sedang tidak bersahabat untuk menangkap ikan,” ungkapnya.

Selama ini kata Rikson, saat bulan akhir Desember hingga Februari setiap tahunnya, nelayan tidak melaut dan terpaksa mencari pekerjaan sampingan untuk menghidupi keluarga.

Nelayan juga kata dia tidak memikirkan biaya pendidikan anak-anak mereka sehingga banyak anak nelayan yang tidak melanjutkan kuliah karena terbentur biaya.

Sumber: https://www.cendananews.com/




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

Write a comment

Ada 1 Komentar untuk Berita Ini

View all comments

Write a comment